desert rose

December 5th, 2007 by sambilngupi

7819211797774772
I dream of rain
I dream of gardens in the desert sand
I wake in vain
I dream of love as time runs through my hand

.

Yasmin memulai menyanyi sambil bergumam dan memulai sebuah tarian. Tepukan kaki sambil menjentikkan kedua jari tangan. Dia mencoba memeragakan sebuah gerakan ala India campur Arab, dengan mengangkat kedua tangan dengan merekatkan jari tengah dan ibu jari pada masing-masing tangannya. Ujung jari kaki kanan dijengatkannya ke atas, kemudian diputar-putarnya pinggul ke kanan dan ke kiri mengikuti irama.

.

I dream of fire
Those dreams are tied to a horse that will never tire
And in the flames
Her shadows play in the shape of a man’s desire

.

Sambil berputar, stola merah Yasmin beserta benang-benang panjangnya melayang-layang mengikuti gerakan badannya. Ditambah dengan bunyi gemerincing gelangnya menambah semangat Yasmin menari. Tak tahu kapan Yasmin mulai dikelilingi orang, tiba-tiba ia mendengar nyanyiannya diiringi oleh gitar, biola, tepukan tangan, dan perkusi.

.

This desert rose
Each of her veils, a secret promise
This desert flower
No sweet perfume ever tortured me more than this

.

Yasmin menyanyi dengan keras. Hampir rasanya musik lagu itu terdengar keras di telinganya. Sambil menari, ternyata dia sudah berada di tengah satu kerumunan besar, dan persis ada di tengah penari-penari lainnya yang mengiring dengan tarian dan tepukan tangan. Sangat bersemangat, hampir seperti kerasukan. Tidak segan, dan tidak tahu malu.

.

And as she turns
This way she moves in the logic of all my dreams
This fire burns
I realize that nothing’s as it seems

I dream of rain
I dream of gardens in the desert sand
I wake in vain
I dream of love as time runs through my hand

.

Yasmin menari dengan berputar-putar, meloncat ke sana, ke sini, ke kanan, ke kiri, ke belakang, memainkan stola sambil berlari mengikuti irama, di dalam lingkaran itu. Sambil bernyanyi, ia tidak sungkan mengajak para penonton ikut bernyanyi dengan lantang, tak peduli mereka mengerti liriknya atau tidak. Rasanya seperti sedang mengadakan konser tunggal, dengan penari-penari latar mengiringi. Dengan mantap ia menggerincingkan gelang-gelang penuh bel kecil itu sambil menggoyangkan pinggul dengan liar. Ia bisa mendengar siulan demi siulan mengiringi tarian dan irama musiknya. Sambil menutup mata, bayangkannya berada di tengah sahara pasir yang luasnya tak terhingga, dengan pohon-pohon mati di antaranya. Sekumpulan kuda yang berlari di sebelah jauh dengan kepulan debu yang terbang menambah suasana kering. Burung gagak yang terbang dan hinggap di pohon-pohon mati menambah kekelaman.

.

Sebuah perasaan kuat, Yasmin menarik tangan seorang penari lelaki yang menari di dekatnya. Dipegangnya belakang kepala lelaki itu sambil mendekatkan mukanya ke muka lelaki itu. Mereka berdua berdansa sangat panas.

.

I dream of rain
I lift my gaze to empty skies above
I close my eyes
This rare perfume is the sweet intoxication of her love

.

Muka mereka sangat berdekatan, dielusnya belakang kepala sampai ke pipi lelaki bercambang kasar yang sangat ganteng dan gagah itu. Dengan muka bekas cukuran janggut dan kumis yang mulai tumbuh kasar membuat geli tangan Yasmin. Bibir mereka hampir berpagutan. Yasmin bisa mencium hawa panas manisnya lelaki itu, dan begitupun sebaliknya. Hentakan demi hentakan musik membawa mereka semakin dekat, dan bukan hanya muka, namun juga badan yang semakin menempel. Yasmin benar-benar merasa di atas awan, penuh dengan perasaan aneh di perutnya. Nafsu.

image taken from: http://www.shutterstock.com

for my dearest friend: fifi afiati hasan

lorong panjang berkerikil #2

October 6th, 2007 by sambilngupi

kembali aku memasuki jalan panjang itu
teringat akan semua yang telah kulalui sepanjang waktu ini
kusibakkan rambut di dahiku yang sedikit menutupi mataku
siap-siap…

bukannya aku tidak mau ditemani lagi
tapi mungkin aku kurang pandai mengikuti cara yang kamu tunjukkan padaku
jika memang kamu tak mau lagi menemaniku,
biarlah kukembali ke cara lamaku lagi
sendiri

kumasukkan kembali sandal jepit kedalam kantong plastik,
dan memulai menggunakan sepatu hak tinggi di jalan yang penuh lubang dan becek ini
kuterima semua was-was, canggung, ketakutanku, sendirian
aku tidak mau menyusahkan siapa-siapa lagi

jika sampai habis umurku, sebelum umurmu
ingatlah aku sebagai temanmu
aku bukan musuhmu.

being a trigger fish

February 16th, 2007 by sambilngupi

Dsc00051
Aku bolak balik laukku yang hampir ludes semuanya.
Ikan.
Akhir-akhir ini aku sering makan ikan. I have my own reason kenapa aku jarang makan ikan. Ah, itu ga penting. Anyway,
Ikan masak bumbu pedes, yang dioleskan diatasnya.
Ikannya sendiri dibakar.
Nyam nyam abas.
Dagingnya yang tidak berduri, dengan bongkahan daging yang rasanya antara gurih dan manis.
Belum ditambah dengan topping berbentuk pasta sambal. ‘Mak Nyus’, kalo kata Pak Bondan Winarno.

.

.

Ikan ini saya kenal dengan trigger fish. Salah satu ikan yang  cukup besar dan galak.
Jangan salah dulu, bukan sebesar paus atau segalak hiu.
Tapi, kira-kira sebesar ikan gurami tapi lebih agresif daripada hiu.

.

.

Termasuk keluarga parrot fish yang bergigi depan segede permen Sugus jaman dulu, dengan mata melotot sibuk melirik kesana kemari (seakan mencari … siapa korban diver gue saat ini?).
Mencari makan dengan cara menggerogoti karang. Iya, menggerogoti.
Bayangin aja setajem apa tuh gigi?

Huh, ternyata galak tuh karena dagingnya eunak begindang!
Pantes aja.

Jadi ingat aku akan beberapa tipe orang yang galak segalak-galaknya, hanya karena menutupi kelemahannya. Yup. persis kaya trigger fish ini.

.

.

Jadi ingat lagi juga dibandingkan dengan raja hutan.
Kenapa sih dinamakan Raja Hutan? Kenapa ‘raja’ gituloh.
Mungkin karena karisma?
Ngeliat tampangnya aja takut. Palagi kalo dikejar.
Huah, pasti langsung pingsan sampai ga sempet pipis di celana saking takutnya.
Pasti dalem hati ngomong gini kalo dikejar ama singa, "I beg you, do it fast".

.

.

Baru-baru ini ada seorang teman yang bilang sama aku:
"Mak, kata si uhm, dia minta maap"
Napa bank?
"Iya, si uhm takut mak marah"
Hah?

.

.

Orang yang kukenal (hanya dari satu sumber) yang sangat egosentris, ga mau kalah, dan tidak bisa menghargai orang lain, bisa takut sama aku?

.

.

Ketemu aja belum.
And I didn’t even act galak.

Or, maybe I AM that scary after all? :P

September 13th, 2006 by sambilngupi

putih
dingin
kosong
hampa

.

melayang bagaikan layangan putus yang terbang tinggi
lepas
tidak jelas arah

.

sepi

.

bisa kugambarkan di kepalaku
warna jantungku yang merah tua semu hitam
merah karena masih hidup berdegup
hitam karena friksi sakit yang sering kurasakan
semacam borok
yang separuh kering dan siap untuk bernanah lagi

.

aku terdiam
lama
mungkin ada limabelas menit lamanya
otakku juga diam
lama
tidak berniat berpikir apa-apa

.

sampai akhirnya pengemudi mengagetkanku
menanyakan jalan mana yang sebaiknya kita tempuh
oh common, kata kepalaku (akhirnya)

saya hanyalah tamu, gimana saya mesti tau jalan?

sumpah serapah sejuta topan badai hampir kuberondongkan,
kalau tidak ingat bahwa memang standar pertanyaan sudah demikian

bapak saja deh yang mencarikan jalan buat kita, jawabku (akhirnya)

kendaraan melaju melalui jalan yang ditempuhnya

.

diam lagi

sepi lagi

putih lagi

dingin lagi

kosong lagi

.

dadaku kembali terasa tersayat

mataku mulai berkaca-kaca
siap menjatuhkan bergalon-galon bongkahan air mata

segera aku menyerot ingusku yang hampir turun

.

biarlah berbunyi nyaring,
daripada sesenggukanku yang terdengar

basi banget nangis di sini

.

tiba-tiba kurasakan telepon genggamku bergetar ditanganku

kutatap lama nama yang muncul di layar

haruskah aku mengangkatnya?

tiba-tiba aku tak kuasa menahan bongkahan air mataku

.

… dan akhirnya aku menangis

(jakarta, akhir agustus 2006)

sakit gigi

July 25th, 2006 by sambilngupi

Paa076000059
hanya dalam seminggu,
suwer,
seminggu.

.

sakit gigi
mendingan
hampir sembuh
sampai sakit gigi lagi - malah lebih sakit dari yang pertama.

.

dari tragedi tsunami di pangandaran
gempa di sulawesi
terasa sampai bali
sampai ke pangandaran lagi.

.

dari ORI
ke playboy edisi ke-3
gossip Ahmad Dhani dan Mulan Kwok
sampai ke ngungsinya penduduk pesisir.

.

dari niatnya brenti ngerokok dihabisnya pak kedua
ke bergantinya keputusan
sampai ke beli satu slop.

.

dari:
"mbak, penjahitnya mundur seminggu"
"ada waktu kita buat bordir?"
"ya harus ngebut"
"mana belum buat pernik lho"
"iya, erport, semarang, singapur, ama bazaar"
"terus gimana"
"ya jalan aja terus, lets see what happen"

.

sampai:
"aku suka nih miss x sama satu lagi… latin gitu"
"bentar aku buka indosiar"
"itu miss x kayanya asik dan pinter banget tampangnya"
"hah? kaya pemain bf, gitu"
"hahaha… ga setuju ya? tapi aku suka"

.

dari email soal awan tegak lurus
ke sms gossip peramalan gempa
sampai ke pemikiran "apa lagi yang bakal terjadi"

.

besok brarti mulai itungan minggu baru dari minggu yang kemarin,
apa yang kira-kira terjadi?

.

image taken from: fotosearch.com

Stockings

July 11th, 2006 by sambilngupi

Itf133023
Pagi ini, aku berada depan laptopku seperti biasa. Mengejar deadline baru penyelesaian report yang telah berbulan-bulan tertinggal. Kuhirup dalam isi dari secangkir besar kopi banci panas. Cangkir kedua. Enak sekali udara hari-hari ini –  bulan Juli sampai Agustus biasa angin dingin — menemani ritual kegiatan setiap hari.

.

Lagu-lagu berlirik bahasa Indonesia terdengar dari ruangan kerja sebelah. Sesekali kuikuti liriknya, jangan pergi dariku, tinggalkanku, bawa daku kemana kau pergi. Kompilasi mp3 lagu-lagu berbahasa Indonesia yang aku beli dari Yogyakarta dari trip terakhirku. Berhubung kompilasi, jadi tidak semua album dari kompilasi itu aku suka, malah terkadang tdak tahu ini lagu apa, atau malah grupnya?

.

Kali ini aku biarkan saja lagunya bermain tanpa aku seleksi. Kalau tidak kenal lagunya biasanya masuk telinga kanan, keluar kiri, dan sebaliknya. Aku tidak yakin yang mana dulu, tapi aku juga tidak peduli.

.

Aku berpikir keras depan laptopku, bagaimana merangkai kalimat yang bagus di paragraf kedua bab baru report sialan ini, sampai akhirnya kutersadar bahwa hampir semua kata-kata di setiap lirik lagu yang dimainkan dari tadi memiliki tema yang sama. Cinta.

.

Memang bukan berita baru sih. Standar malah.
Cuma, pagi ini begitu mengena.
Sempat aku terlena dan masuk kedalam cerita liriknya, membayangkan bahwa liriknya adalah hidupku, aku memeluknya erat, menangis dipelukannya, dikecupnya penuh cinta bibirku, ditatap dalam-dalamnya mataku, sampai akhirnya dia pegi, meninggalkanku.
Meneteslah air mataku.

.

Aku membayangkan pengalaman hidupku?
Bukan.

.

Biasa, perempuan.
Mau datang bulannya.
Yang dibayangin tadi juga KD, kok.

.

Stocking, boooo…

Sumber image: fotosearch.com

Lelaki Buaya Darat

July 1st, 2006 by sambilngupi

4215349794
….Buset! Aku tertipu lagi… Mulutnya manis sekali tapi hati bagai srigala…

Tersenyumlah Maria.
Kejadian meyebalkan sudah berlalu enam bulan lamanya.
Eh, lagunya di pasaran ada sekarang. Hebat, kata Maria suatu kali kepada sahabatnya, Miriam, bahwa Maia sang pentolan Ratu, sangat brilian dalam menciptakan setiap lagunya. Kata-kata dan melodi yang sangat mudah diterima oleh masyarakat, selalu menjadikan setiap lagu barunya menjadi hits.


Ada-ada aja
, pikir Maria sambil menunggu bridge lagu tersebut selesai.


… Kutertipu lagi, kutertipu lagi …

"Yang, kemeja ini bagus, ya? Tapi saya lagi nggak punya uang nih, belum gajian", sahut Leo sambil memberi Maria mimik muka sedih dan ngiler sambil memegang-megang kemeja di butik terkenal siang itu.

"Sayang mau ya? Saya bisa belikan dululah kalau yayang mau", kata Maria sambil menyuruh sang pramuniaga membungkuskan baju itu.

Memang sih sudah empat kali selama sebulan ini mereka pacaran, Maria membelikan pakaian untuknya.
Nggak papalah, saya kan selalu minta diantar jemput pulang dari kuliah ini
, pikirnya.

Kadang Maria heran juga, bagaimana mungkin Leo bisa bilang selalu nggak punya uang, padahal setiap minggu pasti terjadi modifikasi di mobilnya itu. Nggak modif besar, nggak kecil.


Ah, nggak papalah. Saya kan cinta dia. Dia pun pasti cinta saya, jadi nggak mungkin saya dikadalin.


… Kuberikan semua cinta harta dan jiwaku …

Sampai satu ketika, Maria mulai merasa jengah, karena selain 5 biji kemeja-kemeja mahal itu, masih ada kacamata Rayban, dan jam tangan bermerk Tag Heuer. Masa sih Leo ga punya duit?

Bagaimana kalau….


Selamat sore semua, ketemu lagi kita empat bersaudara di acara…
Playboy Kabel Bersaudara!

Pendek cerita, berhasillah Shanti, sang penggoda, memikat Leo yang telah dikadalin untuk menjadi pacarnya dengan imbalan 15 juta perbulan!

Hey, buaya! kita putus! Dasar matre!
Basi loe!, hardik Leo sewaktu melihat Maria keluar dari persembunyiannya yang diikuti oleh keempat bersaudara itu.

Sakit?
iya sih, waktu itu, pikir Maria.
Ah, sudah waktunya dia bahagia bersama pacarnya yang lama, Edwin, yang sudah dia kadalin juga selama berjalan dengan sang penjahat wanita -Leo.

… untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya, tetapi mengapa aku masih saja tertipu olehnya …?

Diilhami oleh lagu "Lelaki Buaya Darat" oleh Ratu, dan suatu episode acara televisi "Playboy Kabel Bersaudara"

Source Image: fotosearch.com

si lima

June 26th, 2006 by sambilngupi

Cb027944
bye, five!

si lima puluh berpamitan pada kami semua.
dan bye, kami semua menjawab.
tidak tahu berapa lama lagi aku harus menunggu.

.

excuse me, excuse me
kata si kakek sambil tersenyum menerabas kerumunan orang yang menunggu lampu merah untuk menyeberang.
siang itu hujan.

.

tek tek, tek tek
tongkat besi sang kakek berbunyi beradu dengan jalanan,
sepatu ibu-ibu tua yang membawa tas merah,
sepatu adik kecil yang digandeng bapaknya,
dan si belang yang sedari tadi duduk di sana.

.

si belang terkejut lantas beranjak,
si adik terpana melihat tongkat sang kakek,
dan si ibu melotot lantas menyeringai.

tek tek, tek tek.

.

tiga hari sudah aku berada di tempat yang pengap ini.
panas tidak, basah tidak.

tapi mending daripada aku harus berada di tempat yang berbau amis,
tempat terakhir sebelum di sini.

sebelumnya lagi aku berada di tempat berdebu,
dalam tempat keras berbunyi nyaring selama beberapa waktu.

sebelumnya lagi, aku berada di tempat berasap yang berbau sedap.
seperti bau makanan yang digoreng.

.

tiba-tiba bye semua,
kata si sepuluh panjang, satu bulat, dan duapuluh bulat tidak lama kemudian.

bye
kata kami - dan saya - lagi.

berapa lama lagi?

.

thank you,
kata erick sebelum menutup tempat pengap ini.
terguncang lagi kami kebawah, sebelum kemudian naik lagi.

masuklah si dua panjang baru,
dan tanpa dinyana,
aku merasakan badanku ditarik dengan kasar.

.

thankyou,
kata si erick lagi.

terang!

aku bisa bernapas.

kuhirup dalam-dalam bau hujan dengan cepat sebelum masuk ke tempat gelap lainnya.

.

krek-krek

aku merasa diriku panas
aku diremat!

dan gelap kembali.

.

hey semua

hey, kata mereka
lima, duapuluh, satu - semua bulat.

dan satu pemantik.

seperti biasa aku merasakan diriku berayun.

.

di tempat yang luar biasa sempit ini hampir mustahil aku tidak menyentuh badan teman-teman bulat yang lain.

badanku sakit.

ngilu,
tergores.

.

biasakan dirimu, lima panjang,
kata mereka semua,
tempat ini jauh lebih enak daripada seharian dalam kain yang bau.

memang sih, wangi parfum tersebar di sini.

sambil berayun aku bisa merasakan hujan lamat-lamat mengenaiku tembus melalui kain tempat aku diletakkan.

.

dan tiba-tiba,

kami merasakan ayunan melambat.

dari kejauhan aku dengar bunyi seruling.

merdu sekali.

kami behenti.

suara itu membius kami.

si duapuluh yang berparas ayu berkulit bening tersenyum padaku dan katanya,

ayolah berdansa denganku, lima!

dan kami berdansa.

teman yang lain bersiul-siul,
dan sisanya bertepuk tangan.

.

belum pernah aku merasakan senyaman ini.

sampai akhirnya,

tangan besar berbulu yang berbau tembakau masuk kedalam kantong celananya.

kami semua tergetar.

semua berhenti menikmati suara seruling merdu itu dan,
sesegera setelah itu,
terang di depan kami.

bau hujan,
bunyi seruling menghentak kami.

.

bapak, terimakasih atas lagunya, teringatlah aku akan seseorang yang pernah kucinta di waktu yang lampau,
kata lelaki berbau tembakau campur parfum ini dalam bahasa inggris berlogat cina.
bapak itu mengangguk sambil melepaskan serulingnya dari bibirnya,
dan tersenyum menerima kami.

.

berpindahlah kami,
kepingan uang logam dan kertas,
ke tangan bapak tua buta bertongkat besi,
di bawah gerimis hujan,
di suatu taman di orchard road,
singapura.

Source Image: fotosearch.com

Si Jay Piknik

June 3rd, 2006 by sambilngupi

Isp0802858
Jum’at, 2 Juni 2006

Sebentar lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta. Waktu setempat menunjukkan pukul 13.45 menit. Tidak ada perbedaan waktu antara Yogyakarta dan Jakarta. Mohon untuk tidak menyalakan telepon ganggam sampai anda sampai pada terminal kedatangan. Mohon tetap menggunakan sabuk pengaman sampai pesawat ini benar-benar berhenti. Terimakasih telah terbang bersama Emprit Airlines.

.

Adrenalin gue terpompa keras. Truk pengangkut barang logistik untuk didistribusikan ke pelosok sudah sampai di sini, mestinya. Gue memandang limabelas rekan gue yang berada dalam pesawat ini, mengemban tugas. Mendistribusikan barang-barang sumbangan ini ke tangan yang berhak.

.

Kita semua keluar dari pesawat, dan tertawa meneruskan pembicaraan kami di pesawat tadi: pramugarinya punya alis ‘heran’. Gue dengar Mbak Nasti menelpon Mas Adam yang masih di Jakarta, melaporkan bahwa timnya sudah sampai di Yogyakarta dengan selamat. "Kita langsung ke Gedong Kuning. Koordinasi jam enam sore", teriak Mbak Nasti kepada kami semua.

.

"Jay, loe kemana besok?"
"Gua mau ikut ke Yogya, relawan bo…!"
"Gile loe… gaya bener"
"Gile! Gue ni dipaksa ama Kakak gue… Males juga sih, angkut-angkut. Tapi yah, skali-skali gue nolong"
"Hebat loe! Eh jangan lupa bawa kamera…"
"Beres!"

.

Gue ingat pembicaraan gue dengan Andy kemarin. Gue mengemban tugas kemanusiaan!

.

Sabtu, 3 Juni 2006

Bangun!
Jam setengah tujuh pagi. Gue pikir jam lima harusnya kita sudah kumpul. Biarin deh.
Akhrinya jam tujuh sia-siap dan menuju ke tempat kumpul. Gile, gue excited mampus! 4×4 gue dah nangkring di depan truk.

.

Siap-siap!
Kita semua jalan. Kamera tidak lupa gue bawa. 4×4 gue ama temen gue kosong. Ga tahu tugas kita apa, gue jalan aja di belakang truk besar mengangkut logistik.

.

Gue Jay, umur gue sembilan belas tahun. Rumah gue di daerah Pondok Indah, gedong sih, orang bilang

.

Nyupir berputar-putar.
Gue bosen! Seharian ngeliatin truk berhenti bagi-bagi logistik.
Ngeliatin orang-orang sengsara.
Ngeliatin temen-temen gue foto-foto (termasuk gue juga sih).
Ngeliatin banyak orang berpakaian rapih (pasti bukan pengungsi dong) jalan-jalan bersliweran ngomong kenceng becanda di ha-pe.

.

Gue Jay, ga tahu mau ngapain di sini. Biasanya gue main ke mall, godain cewe-cewe. Giliran sampai sini, niat gue mau nolong, gue ga dikasih petunjuk kudu ngapain

.

Ini ya yang orang suka bilang, berdarmawisata di atas penderitaan orang lain?

.

EGP.

.

Gue Jay, lain kali kalau gue tahu bakal kaya begini, gue ga lagi-lagi mau ikutan.
Panas, tauk!

Source image: fotosearch.com

Parjiman

May 15th, 2006 by sambilngupi

Merapi5"Opo jarene (apa kata) Embah Marijan?", tanya Lik Wakino kepadaku.
"Dia bilang dia nggak akan ngungsi, yang lain disuruh tidak mengikutinya. Yang jelas, ora gelem (tidak mau) ngungsi, pokoke", jawabku sambil berlari.

Di antara sirine yang meraung, juga pukulan kentongan, dari kejauhan bisa kudengar Siti berteriak-teriak memanggil Rubiah - emaknya, si Parijan memanggil Bude-nya, si Mbok Mijil memanggil keponakannya. Semuanya berlari tergopoh-gopoh menuruni jalan aspal itu. Beberapa sepeda dan motor berhamburan melewati kami.

Baru saja menginjakkan kaki di kampung, setelah beberapa saat berada di penampungan. Lega kembali berada di tempat kelahiran. Kekhawatiran akan bagaimana nasib ternak dan peliharaan setelah sekitar empat hari yang lalu ditinggalkan. Baru saja aku menambah rumput bagi Kliwon - sapi kesayanganku dan Rubinem, kakak sulungku - dan menepuk-nepuk punuknya, sirine sudah berbunyi. Kuingat perasaanku, antara kesal, panik, sedih, nelangsa, bersemangat. Semua teraduk-aduk menjadi satu. Aku dan beberapa orang di dekatku mendongak ke atas. Dan benar! Dia datang lagi! Tanpa berpikir panjang lagi, aku melepas tali si Kliwon, dan membawanya lari. Sambil aku berteriak-teriak memanggil kakakku untuk menyuruhnya keluar dan menyelamatkan diri.

"Ngopo (kenapa) kamu bawa si Kliwon, Man?", tanya Mbok Jinah yang melintasiku.
"Mesakke (kasihan), Mbokde", jawabku.
"Ealah, kamu ndak bisa lari kalau membawa-bawa dia, mbok uwis to (sudahlah) … lepaskan saja", katanya lagi sambil menghilang di antara kerumunan orang di depanku.
Aku tidak peduli. Memang tidak mudah membawa lari Kliwon. Kalau panik dia pasti berhenti, dan aku akan terpaksa menarik-nariknya dengan frustasi. Mudah-mudahan tidak, Kliwon sedang bersahabat denganku, kupertahankan lari kecilku agar Kliwon tidak mogok.

Sambil berlari, kuingat kembali peristiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih sekitar lima tahun. Aku diajak oleh Yu Nem untuk berbelanja ke kota - istilah kami penduduk yang tinggal di kaki gunung. Kami tidak punya firasat apa-apa ketika dia datang melintasi desa kami. Keadaan yang cepat itu menyisakan kenangan pahit bagi kami berdua. Pakne, Makne, Yu Silah, Lik Ijan, Lik Un, De Siti Lemu, Mak Seti, seluruh anggota keluarga kami tercinta, beserta puluhan penduduk lainnya, telah diambil nyawanya. Tabrak lari - ya, itu mungkin kata-kata yang pas. Meninggalkan puing-puing dan jenasah berarang. Aku tak ingat harus merasakan apa, ketika mengetahui bahwa sejak saat itu aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, kecuali Yu Nem.

Aku berlari menghapus air mataku. Ternyata aku menangis. Mengapa aku menangis? Tidak jelas juga mengapa. Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin Kliwon mati. Aku tidak ingin Yu Nem mati, atau siapapun mati karena awan panas itu. Tapi apa daya kita, manusia kecil-kecil jika dibandingkan dengan gunung sebesar itu? Kena awannya saja kita sudah tinggal nama. Oh Gusti, nyuwun pangapunten, bisikku dalam hati. Aku memohon maaf kepada Gusti Allah, sadar bahwa aku melarikan diri untuk menyelamatkan nyawaku. Mati atau tidak aku saat ini, aku tidak akan meninggalkan Kliwon, Celingak-celinguk menyadari bahwa Yu Nem telah berada di depan kami. Nyawaku telah diselamatkan pada saat itu, dan aku berjanji akan menyelamatkan satu nyawa saat ini.

Kupalingkan kepalaku kebelakang. Wedhus gembel terlihat sangat anggun dan kokoh. Berwarna keabuan seakan sebagai beribu-ribu kambing berbulu gembel yang sedang melaju. Begitu besar ciptaan Gusti. Terkesima dan kemudian terkesiap ketika melihat penduduk lain di belakangku yang berlarian berhamburan meyelamatkan nyawa mereka sendiri.

Aku kemudian mencoba mempercepat langkah si Kliwon, meneruskan menangis dan berlari.

Image: Alamsyah Surya Sunandar (http://alamsyahss.multiply.com)